<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Aspk06's Weblog</title>
	<atom:link href="http://aspk06.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aspk06.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<pubDate>Thu, 29 May 2008 17:14:15 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cerpen: &#8220;surat terakhir untuk bunda&#8221;</title>
		<link>http://aspk06.wordpress.com/2008/05/29/cerpen-surat-terakhir-untuk-bunda/</link>
		<comments>http://aspk06.wordpress.com/2008/05/29/cerpen-surat-terakhir-untuk-bunda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 16:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aspk06</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aspk06.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[        Aku terlahir dari sebuah kelurga yang sangat
sederhana, ayahku meninggal 10 tahun yang lalu,
tepatnya di usiaku yang ke-sepuluh, sehingga bunda
harus membanting tulang dengan menerima order jahitan
dari para tetangga. Tak jarang aku terbangun di tengah
malam karena suara berisik yang bersumber dari mesin
jahit, dan kulihat sosok bunda sedang sibuk
mengerjakan pesanan pelanggan yang harus di selesaikan
malam ini, karena akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>        Aku terlahir dari sebuah kelurga yang sangat<br />
sederhana, ayahku meninggal 10 tahun yang lalu,<br />
tepatnya di usiaku yang ke-sepuluh, sehingga bunda<br />
harus membanting tulang dengan menerima order jahitan<br />
dari para tetangga. Tak jarang aku terbangun di tengah<br />
malam karena suara berisik yang bersumber dari mesin<br />
jahit, dan kulihat sosok bunda sedang sibuk<br />
mengerjakan pesanan pelanggan yang harus di selesaikan<br />
malam ini, karena akan di ambil pemiliknya keesokan<br />
hari, sipa yang tak tergetar hatinya menyaksikan<br />
pemandangan yang begitu menyedihkan, semua itu beliau<br />
lakukan tak lain hanyalah demi sesuap  nasi untuk<br />
menghidupi aku dan ketiga adikku. Aku sendiri bekerja<br />
sebagai pegawai part time di sebuah perusahan obat di<br />
<span class="yshortcuts">Surabaya</span>, dengan gajiku yang sangat pas-pasan aku<br />
memaksakan diri untuk kuliah walaupun di sebuah<br />
sekolah tinggi swasta yang hampir nyaris tak terdengar<br />
namanya. Semua itu ku lakukan demi mewujudkan<br />
cita-cita besarku untuk membangun sebuah istana yang<br />
akan ku persembhkan pada bunda.<br />
Walaupun usiaku tak lagi kanak-kanak, perhatian bunda<br />
padaku tak pernah pudar bagaikan mentari yang selalu<br />
menyinari dunia. Bahkan hanya soal sepele, tak jarang<br />
beliau tanyakan padaku, sering sekali beliau bertanya<br />
dengan nada yang sangat lembut, siapapun akan merasa<br />
senang karena mendengarnya, seraya memanggil namku<br />
beliau bertanya “Dani, kamu sudah makan malam ? Jangan<br />
lupa makan ya, nanti kamu masuk angin”. Aku selalu<br />
malu pada diriku sendiri, di usiaku yang sudah<br />
memasuki kepala dua, tak banyak yang dapat aku berikan<br />
untuk keluargaku terutama bunda, aku malu hanya<br />
menjadi benalu dalam kemiskinan yang tuhan  anugrahkan<br />
pada keluargaku.<br />
Setengah abad sudah bunda mengarungi derasnya cobaan<br />
dunia, dan selama itu pula hampir tak pernah ku lihat<br />
beliau tersenyum gembira. matanya yang hitam cekung,<br />
tubuhnya yang kurus, serta cara bicaranya yang gemulai<br />
seakan menggambarkan betapa susah dan melelahkan hidup<br />
yang beliau jalani. Mungkin orang yang melihat wajah<br />
beliau akan berkesimpulan betapa menyedihkan hidup<br />
yang wanita ini jalani. Tetapi dibalik itu semua,<br />
beliau mempunyai semangat yang luar biasa, tak banyak<br />
orang yang memiliki kepribadian seperti beliau.<br />
sore ini beliau menasihatiku dengan penuh kelemah<br />
lembutan yang langsung merenyuhkan hatiku, semua<br />
persendianku terasa lemas karena mendengar nasihat<br />
beliau, sambil mengusap-usap kepalaku beliau berkata<br />
dengan lemah lembutnya “nak, janganlah kau menyerah<br />
pada nasib dan jangan kau sia-siakan masa mudamu yang<br />
amat berharga, bunda tidak mengharapkan apa-apa dari<br />
kamu, kecuali kamu menjadi orang yang berguna bagi<br />
dirmu, agama dan orang-orang di sekitarmu…”. Mendengar<br />
nasehat dari beliau yang amat bersahaja, tak sanggup<br />
lagi aku menahan jatuhnya tetesan air <span class="yshortcuts" style="background:none transparent scroll repeat 0 0;cursor:hand;border-bottom:medium none;">mata</span>, sipapun<br />
pasti akan tergugah mendengar kata-kata beliau.<br />
Semalam suntuk aku terbaring di atas kasur kapuk<br />
yang sudah sangat kusam warnanya serta dihiasi dengan<br />
beberapa tamblan di sisi kiri dan kanannya, tak<br />
sanggup rasanya aku memjamkan <span class="yshortcuts">mata</span> mengingat nasehat<br />
beliau yang begitu bijaksana. Dalam renunganku aku<br />
menulis diatas sebuah buku diari yang biasa menemani<br />
hari-hariku. Baris demi baris tinta kugoreskan di<br />
atasnya, pada bagian judul ku tuliskan “SURAT UNTUK<br />
TERAKHIR BUNDA” …aku pun tak mengerti apa alasan ku<br />
menuliskan judul seperti itu, tak ada firasat buruk<br />
yang muncul di benakku, tiba-tiba tanganku bersikeras<br />
menulis kumpulan kata tersebut. Dan aku pun terus<br />
menulis baris demi baris </p>
<p>Bunda, ananda ucapkan terimaksih yang<br />
sebesar-besarnya atas semua yang bunda berikan pada<br />
anak mu ini. bunda, ananda sangat bangga memiliki<br />
orang tua sesempurna bunda. Namun tak sedikitpun<br />
kebaikan yang ananda persembahkan pada bunda. ananda<br />
malu pada diri ananda sendiri karena di usiku yang<br />
tidak lagi kanak-kanak, anda hanya bisa menjadi beban<br />
buat bunda. terkadang ananda berpikir mungkin akan<br />
lebih baik jika ananda meninggalkan dunia agar beban<br />
bunda sedikit lebih ringan.<br />
Bunda, maafkan ananda jika selama ini tiada kebaikan<br />
yang dapat ananda persembahkan untuk bunda. Bunda,<br />
sejuta harapan ananda untuk membuat bunda bahagia.<br />
Bunda, ananda selalu berharap agar kelak suatu hari<br />
nanti ananda bisa mempersembahkan istana yang maha<br />
megah beserta para pekerjanya untuk bunda, agar bunda<br />
tidak lagi bersusah payah mencuci baju dan menyapu<br />
rumah serta menjahit pesaan para tetangga. Dan ku<br />
panjatkan doa pada yang kuasa supaya ananda diberikan<br />
kepanjangan usia, agar ananda bisa mewujdkan semua<br />
cita-cita.</p>
<p>Pada baris terakhir, <span class="yshortcuts" style="background:none transparent scroll repeat 0 0;cursor:hand;border-bottom:medium none;">mata</span> ku mulai merasa kelelahan<br />
dan aku pun tertidur pulas berbantalkan diari yang<br />
sering menemani tidur malam ku.</p>
<p>&lt;&lt;&lt;&lt;&lt;&lt;……&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;</p>
<p>hari ini adalah jadwalku untuk mengantarkan jahitan<br />
yang di pesan bu salam tiga hari yang lalu. Seperti<br />
biasa aku berangkat dengan mengendarai motor tua<br />
warisan mendiang ayahku, tak lupa pula aku mencium<br />
tangan bunda sebelum berangkat sebagai simbol doa<br />
restu yang diberikan beliau pada ku. Pagi ini agak<br />
sedikit berbeda dari hari biasanya, pagi ini kudekap<br />
bunda dan kucium tangannya dengan penuh takdzim, aku<br />
khawatir ini adalah saat terakhirku meraskan kasih<br />
sayangnya.<br />
Dalam perjalanan hatiku terasa sangat gundah, bebagai<br />
pikiran pun bermuculan satu persatu di benakku, wajah<br />
mendiang ayah tiba-tiba saja muncul di pikiranku, tak<br />
lama kemudian wajah bunda ikut menghiasi bayangan di<br />
kepalaku, aku pun merasa sangat rindu kepadanya …ah,<br />
rasanya ingin sekali aku lekas pulang dan kembali<br />
bercengkrama seperti biasanya. Aku pun mulai melaju<br />
dengan kencang, tapi sungguh naas, aku tak sadar ada<br />
truk bermuatan pasir yang juga melaju kencang<br />
berlawanan arah dengan ku, dan sialnya aku tak dapat<br />
menghindar dari hantaman keras truk tersebut, tubuhku<br />
pun terpental sejauh 6 meter dari tunggangan warisan<br />
mendiang ayahku, aku merasa dingin menjamah selurh<br />
tubuhku, dan kurasakan darah segar yang mengaliri<br />
kepala dan hidungku, aku pun mulai lemas dan<br />
mengerang…tiada  lagi yang dapat ku lakukan, sambil<br />
menetskan air <span class="yshortcuts">mata</span>, dalam hati aku berucap “bunda,<br />
maafkan ananda yang tak bisa mewujudkan cita-cita,<br />
maafkan ananda yang belum bisa membangun istana untuk<br />
bunda, bunda…sungguh ananda tak kuasa meninggalkan<br />
bunda berjuang sendirian menerjang kerasnya gelombang<br />
kehidupan. Bunda rindu hati ini untuk segera bertemu<br />
bunda. Ingin rasanya ananda kembali memeluk tubuh  dan<br />
mencium tangan bunda, sebagai simbol keridoan bunda<br />
atas kepergian ananda.<br />
Rasa dingin yang menjalar tubuhku semakin menjadi, tak<br />
lagi kurasakan darah mengalir di tubuh, tubuhku tak<br />
lagi dapat digerakkan  dan dalam erangan terakhir, aku<br />
berucap ”Selamat tinggal bunda, maafkan hamba yang tak<br />
lagi bisa menemani bunda”<br />
     </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aspk06.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aspk06.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aspk06.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aspk06.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aspk06.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aspk06.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aspk06.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aspk06.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aspk06.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aspk06.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aspk06.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aspk06.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aspk06.wordpress.com&blog=3384407&post=28&subd=aspk06&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aspk06.wordpress.com/2008/05/29/cerpen-surat-terakhir-untuk-bunda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>salam&#8230;</title>
		<link>http://aspk06.wordpress.com/2008/04/07/salam/</link>
		<comments>http://aspk06.wordpress.com/2008/04/07/salam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 23:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aspk06</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aspk06.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[salam sejahtera kami ucapkan buat temen2 yang udah mau berkunjung ke blog kami&#8230;silahkan tinggalkan segala bentuk tulisan anda di tempat yang telah kami sediakan,,arek2 ASPK kasih komen yupz,,,
                    *sahal_fauzi
                                                                                                                    
       ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>salam sejahtera kami ucapkan buat temen2 yang udah mau berkunjung ke blog kami&#8230;silahkan tinggalkan segala bentuk tulisan anda di tempat yang telah kami sediakan,,arek2 ASPK kasih komen yupz,,,</p>
<p>                    *sahal_fauzi</p>
<p>                                                                                                                    </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aspk06.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aspk06.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aspk06.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aspk06.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aspk06.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aspk06.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aspk06.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aspk06.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aspk06.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aspk06.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aspk06.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aspk06.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aspk06.wordpress.com&blog=3384407&post=14&subd=aspk06&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aspk06.wordpress.com/2008/04/07/salam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>